PANGERAN SAMBER NYAWA

Monopoli belanda di seluruh jawa misalnya di Batavia  telah menguasai segalanya termasuk golongan etnis china yang berdagang di Indonesia pada masa itu juga telah tertekan dan tersingkir, maka pada 30 Juni 1742  pasukan Cina menyerang Mataram yang ada di Kartasura pada masa pemerintahan Paku Buwana II, penyerangan ini karena Mataram dianggap negara boneka Belanda. Penyerangan ini dipimpin oleh Mas Garendi / Sunan Kuning. Geger Pecinan ini telah membuat para bangsawan keraton melarikan diri misalnya Paku Buwana II(raja mataram ketika masih di kartasura/solo) lari ke Ponorogo Jawa Timur, Pangeran Puger membangun pertahanan di Sukowati, Sragen sedangkan  RM Said / Mangkunegara waktu itu berusia 19 tahun membangun pertahanan di Randu lawang sebelah utara Surakarta dan karena satu misi maka  bergabung dengan Sunan Kuning. Pada masa itu Said bergelar Pangeran Perang Wedhana Pamot Besur yang diangkat sebagai panglima perang dan menikah dengan Raden Ayu Kusuma Patahhati, sedangkan Mangkubumi lari ke Semarang untuk menemui belanda dan meminta dirinya diangkat sebagai Raja. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh belanda, dengan memberikan bantuan pada PB II  mengusir pasukan cina dan akhirnya berhasil, karena kerusakan kraton di Kartosura makan kraton dipindah ke Surakarta/Solo. Tetapi berkat bantuan belanda tersebut bagian wilayah timur mulai dari rembang,, Surabaya, madura dan pasuruan di serahkan pada belanda dan pengangkatan raja harus seijin pemerintah belanda.Yang masih tetap melawan belanda adalah Pangeran Puger dan Mangkunegara, sehingga PB II meminta Mangkubumi untuk meredam para pejuang yang dianggap sebagai pemberontak itu. Keberhasilan Mangkubumi tidak mendapat sambutan baik dari belanda dan PB II malahan tanah lungguhnya dikurangi. Sehingga Mangkubumi lari dan bergabung dengan Mangkunegara untuk bergerilya melawan belanda. RM Said/Mangkunegara dinikahkan untuk yang kedua kali dengan Putri Mangkubumi yang bernama Raden Ayu Inten dan bergelar Pangeran Adipati Mangkunegara Senapati Panoto Baris Lelana Adikareng Noto. Nama Mangkunegara ini diambil dari nama ayahnya Arya Mangkunegara yang ditangkap belanda dan dibuang ke Srilangka, karena menentang kekuasaan  Amangkurat IV (Paku Buwana I) karena latar belakang inilah RM Said sangat berkobar melawan belanda. Kehidupan Mangkunegara dihutan dan berpindah-pindah. Hingga pada saatnya PB II meninggal dunia dan kesempatan ini digunakan untuk mengangkat Mangkubumi menjadi raja di Mataram Ngayogyakarta dengan patihnya mangkunegara (1749) tetapi pemerintahan di Yogyakarta tidak diakui oleh kumpeni / belanda. Sedangkan oleh belanda putra pangeran yang bernama Pangeran Adipati Anom  diangkat sebagai raja dengan gelar PB III di Matram Surakarta. Selama sembilan tahun bersama Mangkubumi akhirnya Mangkunegara berselisih paham juga dan berpisah akhirnya berjuang sendiri dipedalaman yogyakarta dan sekitarnya. Perseteruan dua keturunan mataram yang sama-sama mengaku raja Mataram antara Mangkubumi dan Adipati Anom akhirnya dibawa oleh belanda dalam suatu Traktat perjanjian yang bernama Perjanjian Giyanti(1755) dan hasilnya adalah membagi 2 wilayah mataram yaitu bagian timur dengan nama Mataram Surakarta Hadiningrat dengan raja Sri Susuhunan Paku Buwana III dan bagian barat  bernama Mataram Ngayogyakarta Hadiningrat dengan raja  Mangkubumi dengan gelar Sri Sultan Hamengkubuwono Senopati Ngalogo Abdurrahman Sayidin Panotogomo. Sedangkan Mangkunegara kini harus berperang melawan 3 kekuatan yaitu dari Yogyakarta, Surakarta dan pasukan Belanda. Menurut riwayat perang mangkunegara yaitu: selama setahun (1741-1742)  bergabung dengan Laskar cina , kemudian selama sembilan tahun (1743-1752) bergabung dengan Mangkubumi. Dalam masa itu Mangkunegara telah melakukan pertempuran sebanyak 250 kali dan berkali-kali mengkunegara lolos dalam penyergapan, keberhasilan membina pasukan yang militan sangat ditakuti sehingga mendapat julukan “Pangeran Samber Nyawa “, Dalam buku harian Mangkunegara ada dua pertempuran besar yaitu pertempuran di desa Sitakepyak selatan Rembang . pasukan musuh sebanyak 600 tewas  yang dilukiskan seperti semut yang berjalan tiada henti sedangkan prajuritnya yang tewas hanya 3 orang 29 luka-luka.(1756) . dalam perang ini tercatat oleh belanda telah melakukan serangan gabungan yaitu 200 serdadu belanda, 400 pasukan Kesultanan Yogyakarta dan 400 Pasukan Surakarta. Bahkan kapten Ban Der Poll tewas terpenggal kepalanya dengan tangan kirinya di sambar oleh Pangeran Sambernyawa dan di berikan kepada selir Mbok Ajeng Wiyah selirnya sebagai tanda cinta Mangkunegara. Perang besar kedua yaitu di hutan dekat Blora pada tahun 1757. keganasan pasukan belanda yang menyerang dan menjarah harta orang desa membuat marah Sambernyawa yang akhirnya menyerang balik Kraton Yogyakarta dan mendudukinya hingga malam, bahkan patihnya yang bernama Joyosudirgo dipenggal kepalanya. Kejadian ini membuat marah pamanya atau mertuanya Mangkubumi dan menghadiahkan siapa saja yang berhasil membunuh Sambernyawa akan di bayar 500 real. Kehebatan Pangeran Sambernyawa tidak terkalahkan oleh siapapun hingga akhirnya belanda meminta bantuan kepada Paku Buwono III agar bisanya mengajak berunding secara kekeluargaan. Dan akhirnya atas permintaan secara kekeluargaan pula Mangkunegara berhenti berperang dihutan dan diakui kehebatannya dan akhirnya mendirikan istana di pinggiran Kali Pepe pada 1756 dan tempat inilah yang sekarang terkenal dengan nama istana Mangkunegara. Kemudian dibuat perjanjian Salatiga 17 maret 1757 dengan isi mangkunegara diangkat sebagai Adipati Miji (mandiri ) yang pangkatnya sejajar dengan Sultan dan Sunan dan daerah kekuasaanya meliputi: Kedaung, Matesih, Honggobayan, Sembuyun, Gunung Kidul, Pajang utara dan Kedu. Mangkunegara wafat pada 28 Desember 1795. Oleh pemerintah Indonesia Mangkunegara diangkat sebagai pahlawan Nasional dan disana didirikan Pendopo terbesar di Indonesia seluas 3500 meter persegi.

Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.