Bulan Suro di Joyoboyo

Januari 7, 2010

Dimulai pada sore hari di malam satu suro para pedagang kaki lima mulai menggelar dagangannya dijalan yang menuju petilasan yang panjangnya kira-kira 2 km, petilasan Shree Mapanji Joyoboyo yang merupakan Raja Kadiri pada abad ke10 berada sekitar 12 km kearah timur dari kota Kediri Jawa Timur.
Malam harinya banyak orang berziarah dan melekan sampai pagi , sekitar 30 ribuan orang sangat padat seperti perayaan muludan di Kasepuhan Cirebon. Keramaian ini ditutup dengan arak pusaka dari petilasan Joyo boyo ke Pemandian Sendang Kamandanu yang berjarak 1 Km dari petilasan yang dilakukan pada siang hari jam 10-12 . juga ditampilkan karawitan dari Kediri dan Yogyakarta.
Pusaka yang dibawa berupa symbol yaitu keris, yang dibawa seorang gadis cantik berpakaian pengantin jawa dan dikawal oleh para sesepuh, emban-embanan dan puluhan pria tampan berpakaian adat jawa dan dikawal lagi puluhan pemuda berkaos hitam yang bertuliskan “paguyuban roso sejati”.
Dihari-hari berikutnya dibulan suro petilasan ini sangat ramai mencapai ratusan orang yang bertirakat, melekan , bahkan tidak tidur beberapa hari , bertafakur baik dengan sendirian maupun bersama seluruh keluarganya dari warga kediri sendiri, dari Bali, dari Yogyakarta, dari Jakarta dll. Selain bulan suro petilasan ini masih banyak dikunjungi puluhan peziarah dari kediri atau dari luar daerah setiap harinya.

Selamat Jalan Gus Dur

Januari 7, 2010

Ketika itu saya masih muda dan masih belajar di sekolah lanjutan atas , saya tidak begitu tertarik dengan dunia politik. Seorang teman yang ayahnya seorang naip/penghulu didesaku bercerita tentang ada seorang tokoh Gus Dur namanya yang membolehkan dana dari SDSB (Sumbangan Dana bakti Sosial Berhadiah) yang mirip undian lottre dinegara maju yang dibolehkan untuk membangun masjid, sontak saya terkejut ini pasti ada-ada saja dan ternyata benar karena suara seperti itu membuat SDSB yang dijinkan menjadi dilarang oleh pemerintah. Beberapa tahun kemudian Gus Dur menjadi Presiden ke 4 dengan gaya uniknya penulis anggap seperti tokoh Abu Nawas saja.
Gus Dur tumbuh dari Islam dengan organisasi NU yang banyak diilhami gaya islamnya Wali Songo atau Dewan penyebar islam ditanah jawa pada masa 1300-1600 M.
Gus Dur memang kental dengan nuansa NU tetapi tidak identik dengan NU, Beliaunya mempunyai pandangan yang ditemukan banyak dari membaca, berguru, dari NU tetapi mempunyai nilai kebenaran pribadi yang tinggi berupa sikap menghargai perbedaan, bersifat moderat , pluralis, dan mempunyai strategi politik yang handal.
Kalau ditengok dengan sederhana bagaimana gaya NU yang seperti Sunni-nya Saddam Hussein di Irak, misal tidak membolehkan menghancurkan punden-punden atau arca peninggalan leluhur, membolehkan berziarah kemakam orang tua dan leluhur, menerima selamatan orang mati yang berasal dari adat jawa, mesjidnya berciri gaya joglo (bergenting seperti limas/pyramid) bercat hijau muda atau hijau tua, masjidnya ada beduk dan kentongannya gaya jawa, kalau sholat bisa menjadi imam dan berkenan menjadi makmum, masjidnya menerima segala orang islam apapun alirannya, bahkan non islam /perantau kalau cuci muka dipersilahkan, gadis-gadis kadang berjilbab atau hanya kerudung ala jawa sudah dianggap sopan, tidak ada cadar ala ninja. Hal-hal sederhana seperti diatas tidak ditemukan dalam aliran islam yang lain.
Selamat jalan Gus Dur , Semoga senantiasa damai disisi Nya dan diberikan ketabahan iman untuk seluruh keluarga yang ditinggalkannya….